Diam yang Tak Lagi Emas

Riuh rendah ragam kicauan dan suara lantang saling sahut-menyahut di media sosial menjadi latar belakang hadirnya tulisan ini. Saban hari, Instagram dan Twitter memang langganan manusia-manusia abad 21 untuk bersosialisasi, menggantikan interaksi langsung yang kian terbatasi akibat pandemi. Rencana awal tulisan ini dibuat memang ingin bermain di dua platform tersebut, tapi ternyata semesta berkata lain. Di saat antrian tulisan ini mendekati deadline, Indonesia sedang ramai dalam kegaduhan media sosial baru bernama Clubhouse. Medium “bersuara” terkini yang seolah semakin meneguhkan upaya menjaga eksistensi diri dengan suara yang tak lagi dipendam sendiri.



“Diam Itu Emas” adalah ungkapan yang sering sekali mampir ke telinga. Ternyata setelah mencari tahu lebih lanjut, ada dua asal muasal dari ungkapan yang terkenal ini, yakni dari budaya Arab dan Yunani Kuno. Adapun ungkapan aslinya berbunyi, “Speech is silver, silence is golden” yang dipopulerkan oleh penyair Thomas Carlyle pada tahun 1831 silam.(1)


Ungkapan ini sendiri menyimpan maksud bahwa apabila kita tidak memiliki sesuatu yang baik untuk diucapkan, maka lebih baik diam.(2) Ini juga pernah dibahas cukup mendalam dari sudut pandang Islam (karena asalnya memang dari budaya Arab) pada artikel berjudul “Bagaimana Islam Memandang Diam Itu Emas?” yang diterbitkan oleh Republika beberapa waktu lalu.(3)


Namun, seiring berjalannya waktu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi mendorong pergeseran perilaku. Dengan hadirnya freedom of speech, hak untuk bersuara dan berpendapat di muka umum menjadi hal yang lumrah serta melekat pada diri setiap orang. Hak ini pun diatur dalam UU no. 9 Tahun 1998.


Kita perlahan meninggalkan kesempatan untuk mempraktikkan “Diam Itu Emas” dan hidup di era di mana semua orang sibuk angkat suara, berucap dengan lantang tentang apa yang ia rasa dan pikirkan. Hal ini kemudian membawa pada banyak kesempatan sekaligus tantangan baru seperti hadirnya citizen journalism, istilah netizen, sampai konsekuensi seperti bermunculannya hoaks. Karena ini, hadir pula UU no. 19 tahun 2016 atau yang lebih dikenal dengan nama UU ITE (yang sampai sekarang masih banyak celah dan menuai kontroversinya sendiri).


Kalau flashback sedikit, dalam lingkup pertemanan dan hubungan sosial, dulu yang “diam” itu keren, cool. Seringnya ia mendapat atensi lebih. Tentu masih ingat jelas dong bagaimana Rangga yang pendiam dan tak banyak bicara menjadi idola yang digandrungi begitu banyak orang hingga bertahun setelah kehadirannya di film “Ada Apa Dengan Cinta?” Keadaan kini berbalik, di tengah bisingnya media sosial, mereka yang lantang bersuara dapat kesempatan tampil dan perhatian yang lebih. Sementara mereka yang memilih diam kian tersudut dan mudah terlupakan. Nicholas Saputra saja agar tidak tenggelam dan terlewatkan sesekali harus posting foto selfie yang membuat media sosial gempar karenanya. Setidaknya curi panggung sesekali walau tak banyak bicara diperlukan di era seperti ini. Kini kalau mau menjaga eksistensi maka harus bisa mencuri perhatian. Caranya? Ya, jangan banyak diam.


Media sosial meretas batas yang membuat “panggung” kita untuk didengar lebih banyak orang, tidak lagi dalam skala institusi tertentu saja, tapi bisa sampai level nasional bahkan mancanegara. Kalau tidak jago mencuri perhatian, kita bisa tenggelam. Persaingan untuk diakui di media sosial dalam skala nasional saja besarnya bukan main. Dari data yang dirilis oleh We are Social dalam laporan terbarunya Digital 2021: Indonesia, pengguna media sosial aktif hingga kuartal ketiga 2020 mencapai 170 juta orang atau 61,8% dari total populasi Indonesia.(4)


Dengan adanya media sosial, orang-orang juga menjadi lebih nyaman berbagi apa yang ia kerjakan, rasakan, dan pikirkan. Perkara siapa nantinya yang akan membaca atau mendengarkan opini/konten tersebut urusan belakangan, yang penting posting dulu saja.


Tanpa kita sadar dengan review singkat di Instagram Story atau cuitan di Twitter tentang makanan enak yang kita temukan di dekat rumah, anime terbaru yang kita tonton, series Netflix teranyar yang sedang kita gandrungi, kita sudah memosisikan diri sebagai penyampai informasi, sender dalam istilah komunikasi, mengisi peran yang selama ini kita dapat dari media massa. Kalau dulu ketika menerima informasi maka yang kita cari pertama keabsahannya, sekarang kadang fakta kalah pamor dari opini. Tentu tidak ada yang bisa disalahkan atas timbulnya perilaku tersebut, toh sekarang kita punya medium dan hak untuk bersuara, kan.


Walau alangkah lebih baik sebagai pengguna media sosial yang bijak, sudah menjadi tugas kita untuk melakukan filter pada informasi yang kita terima. Sebagai receiver, masih dalam referensi ilmu komunikasi, cross check data yang kita terima sudah jadi tahapan yang wajib. Kalau tidak mau tersesat dalam echo chamber dan lautan hoaks yang membanjiri.


Kalau di media sosial seperti Instagram yang sebenarnya visual-based atau Twitter yang text-based saja kita sudah lantang serta aktif bersuara, apalagi di media sosial baru bernama Clubhouse yang memang audio-based.


Sedikit gambaran mengenai Clubhouse, media sosial ini didirikan pada Maret 2020 lalu dan mulai ramai diakses di Indonesia sejak akhir Januari 2021 lalu.(5) Aplikasi ini sendiri masih terbatas digunakan untuk pengguna iPhone saja (biasanya yang semakin eksklusif justru semakin menarik perhatian). Tidak berhenti di situ, eksklusivitas Clubhouse bertambah karena kita hanya dapat bergabung jika mendapat undangan dari teman yang sudah lebih dahulu aktif di media sosial tersebut.


Pada dasarnya Clubhouse mirip dengan podcast, namun kalau podcast bisa didengar berulang lagi, Clubhouse seperti seminar yang berjalan sekali waktu. Tidak ada siaran ulang. Selain itu, Clubhouse juga tidak memiliki kolom komentar, tidak bisa ditanggapi dengan kiriman emoji. Kalau ingin terlibat dalam dialog yang berlangsung hanya ada 2 cara: membuat room dan menjadi speaker/moderator, atau menekan tombol “raise hand” untuk meminta izin speaker/moderator di room tersebut untuk angkat bicara


Mungkin tulisan ini tak sepenuhnya menggambarkan realitas, tapi setidaknya cukup memberi bayangan bagaimana “diam tak lagi emas” kian tumbuh subur. Sebuah opini pribadi pun terbentuk, kehadiran Clubhouse menegaskan adanya kebutuhan orang untuk lebih didengar, menyampaikan pendapatnya secara bebas dan terbuka (tanpa perlu mempersiapkan penampilan, tanpa perlu menjadi penyiar radio atau pembawa acara di TV, tanpa perlu berlabel YouTuber atau influencer di Instagram).


Pada akhirnya, kini “diam tak lagi emas”. Kehadiran media sosial mendesak kita untuk bertumbuh menjadi individu yang tidak lagi takut berpendapat. Memberikan kita tempat untuk dilihat lebih banyak orang. Menyediakan kesempatan agar suara kita terdengar dan menggema lebih besar tanpa sekat jarak, waktu, dan ruang. -ND



(1) The Phrases Finder, https://www.phrases.org.uk/meanings/silence-is-golden.html [accessed on 16th February, 2021].

(2) Idem.

(3) Hasanul Rizqa, ‘Bagaimana Islam Memandang Diam Itu Emas?’, Republika.co.id, https://www.republika.co.id/berita/pp2itv458/bagaimana-islam-memandang-diam-itu-emas, [accessed on 16th February, 2021].

(4) We Are Social, ‘Digital 2021: Indonesia’, We Are Social, https://datareportal.com/reports/digital-2021-indonesia, [accessed on 16th February, 2021].

(5) Muh. Iqbal Marsyaf, ‘Mengenal Lebih Dekat Clubhouse dan Cara Bergabung dengan Aplikasi’, Sindonews.com, https://tekno.sindonews.com/read/335278/207/mengenal-lebih-dekat-clubhouse-dan-cara-bergabung-dengan-aplikasi-1613354554 [accessed on 16th February, 2021].

5 views0 comments

Recent Posts

See All