Glamorisme Kelam Tamara de Lempicka

Peristiwa-peristiwa menarik dalam kehidupan Tamara de Lempicka seringnya melebihi kontribusi signifikan yang ia buat bagi perkembangan seni modern. Dipandang sebelah mata hanya sebagai seniman 'Art Deco', de Lempicka justru merevolusi gaya lukisan potret; khususnya, peran wanita sebagai subjek yang merdeka dan mandiri.


Bangkitnya feminisme beberapa tahun belakangan, baik itu di Indonesia maupun di penjuru dunia, menjadi katalis dari pelbagai banyak masalah menyangkut pembebasan perempuan. Meski begitu, dan meski bukan berarti keliru, kekuatan feminisme dalam memupuk daya, terutama yang berpusat pada emosi—personal, psikologis, dan subjektif—seringnya masih berfokus pada kebutuhan-kebutuhan mendesak, alih-alih mulai bergerak pada analisis historis dan masalah-masalah intelektual yang timbul dari serangan feminisme terhadap status quo itu sendiri. Sebab pada akhirnya, seperti halnya revolusi dalam bentuk apa pun, kapan pun, dan di mana pun, feminisme pada akhirnya harus juga memahami basis intelektual dan ideologis dari berbagai disiplin intelektual atau ilmiah—seni, sejarah, filsafat, sosiologi, psikologi, dan lainnya—dengan cara yang sama, yaitu dengan mempertanyakan dan merekonstruksi ulang ideologi institusi-institusi sosial yang ada.


Seperti yang Tamara de Lempicka lakukan, hampir seabad yang lalu, dalam dunia seni. Bahkan ketika isu-isu feminisme dan/atau pembebasan perempuan, belum sepopuler dan banyak dipahami seperti sekarang.


Tamara de Lempicka oleh Madame d'Ora (sumber: thesun.co.uk)


Dalam dunia Tamara de Lempicka, perempuan digambarkan sebagai subjek yang selalu berpendirian, mandiri, dan penuh gaya. Sebagai seorang proto-feminis radikal, De Lempicka menjungkirbalikkan representasi klasik perempuan sebagai subjek yang sopan dan pasif, dengan melukis perempuan dari perspektif perempuan sebagai sosok kuat yang bertanggung jawab atas tubuh dan pikiran mereka sendiri. Gaya lukisannya juga memiliki daya yang kuat, menggabungkan elemen Art Deco dengan kubisme dan futurisme, menjadikannya pelopor seniman perempuan yang sangat berpengaruh.


Lahir dengan nama Tamara Gurwik-Górska dari keluarga kaya pada tahun 1898 di Warsawa, Polandia, de Lempicka mencapai puncak kariernya di Paris tahun 1920-an, di mana ia menikmati glamorisme dan gairah masyarakat Eropa pasca-perang. Libidonya memang dikenal legendaris, tetapi hasrat dan daya tarik seksualnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kanvas revolusioner yang dilukisnya.


The Polish Girl (1933) oleh Tamara de Lempicka (sumber: flickr.com/repolco)


De Lempicka adalah tokoh kunci dalam gerakan avant-garde Paris, sebuah fakta yang seringnya malah tertutupi, dibayang-bayangi oleh gaya hidup dan hubungan asmaranya dengan tokoh-tokoh budaya terkenal di Left Bank: Pablo Picasso, André Gide, Colette, dan seterusnya. Sebagai seorang wanita hedonis yang mandiri, De Lempicka mengawali karier melukisnya untuk mencari nafkah, setelah perhiasan keluarga dan kekayaan suaminya hilang pasca-revolusi di St. Petersburg, Rusia, saat mereka melarikan diri pada tahun 1919.


Gaya lukisan De Lempicka—yang mulus, erotis, dan intim—membedakannya dari lukisan-lukisan Art Deco sezamannya. Begitu pula fokus dan perspektifnya. Saat seniman lain seperti Diego Rivera dan Josep Maria Sert kerap mengerjakan mural berskala besar yang menangkap suasana kerumunan masyarakat yang berbaur, De Lempicka justru hampir selalu terpaku pada gaya potret. Banyak dari subjeknya diambil dari para bohemian-borjuis dalam ruang lingkup pergaulannya, dan banyak dari mereka—pria dan wanita, model dan patron—pernah tidur di tempat tidurnya. Bagaimana tidak, De Lempicka adalah seorang biseksual yang memiliki gairah seksual yang besar. Ia juga dikenal karena perselingkuhannya.


La Tunique Rose (1927) oleh Tamara de Lempicka (sumber: fineartphotographyvideoart.com)


Bahkan dalam lingkaran avant-garde Paris sekalipun, yang ramai dengan gaya hidup ultra-liberal, intensitas dan jangkauan kehidupan intim De Lempicka membuatnya menjadi wanita yang tidak biasa. Ditambah lagi, fakta bahwa ia melukis subjek pribadi dan intim—hal yang amat jarang di antara seniman Art Deco—menjadikannya sangat unik.


Lukisan-lukisan De Lempicka cenderung menggoda; terpampang seperti papan iklan dari masa depan yang aspiratif. Tapi jika ditelisik lebih dalam, ada pesona gelap dan kelam di dalamnya. Secara retrospektif, karya-karya De Lempicka sepanjang tahun 1920—30-an terlihat seperti cerminan pedih, seolah menggambarkan dan meramalkan pergolakan (sosial-politik) yang ada di zamannya.


Dilatarbelakangi oleh pemandangan kota yang berkilauan, lukisan-lukisan De Lempicka justru bisa dilihat sebagai himne bagi kebangkitan futurisme dengan segala penghormatannya terhadap mesin dan hasrat untuk perang. Gaungnya pun semakin keras saat Eropa berbaris menuju fasisme di pertengahan abad ke-20. Kota yang digambarkan De Lempicka terkadang diganti dengan lipatan kain atau tangga besar. Tetapi ketika gambaran kota memang muncul, kota tersebut dibuat terlihat seperti kota yang terbuat dari baja polikrom, menjadi sebuah pemandangan yang diidealkan, tidak pernah terkesan banal.


Portrait de Mrs. Bush (1929) oleh Tamara de Lempicka (sumber: pinterest.com/randallhefel)


De Lempicka mengubah gayanya menjadi abstrak pada 1960-an. Bertolak belakang dengan karya-karya sebelumnya yang menggunakan goresan halus, karya-karyanya abstraknya dibuat dengan spatula, yang kemudian dianggap ketinggalan zaman. Lukisan awal De Lempicka kembali menemukan gairahnya pada tahun 1970-an dan pada 1990-an, dan ia pun sekali lagi menjadi ikon-gaya. Bangkitnya gelombang ketiga feminisme, yang menaruh perhatian pada subjek perempuan sebagai yang terpinggirkan, juga berperan aktif dalam revitalisasi ciptaannya. Salah satunya adalah isu pembebasan perempuan gay (lesbian) yang marak di tahun 80-an, menjadikan De Lempicka sebagai ikon pelukis “lesbianisme lipstik” (lipstick lesbianism) yang profetik.


Di kalangan Hollywood, penyanyi/aktris Madonna dan aktor Jack Nicholson menjadi kolektor kontemporer paling antusias dari lukisan De Lempicka. Karya-karyanya telah mencapai ketenaran beberapa kali selama masa hidupnya, dan tetap populer hingga saat ini karena potret Art Deco-nya yang sangat sensual. Kualitas dekaden dan hedonisme dalam karya-karya De Lempicka yang mengundang kritik pada tahun 1960-an dan 1970-an, justru menimbulkan apresiasi baru. Sebab, seperti banyak tokoh artistik di masanya, De Lempicka adalah seorang pembuat skenario, yang pada prinsipnya menggunakan kuas untuk menggambarkan kehidupan, bukan yang sesuai dan apa adanya, tetapi yang ideal dan bisa terjadi. -AA

20 views0 comments

Recent Posts

See All