Kopi Literan atau Cup to Go? Pilihan yang Hadir di Tengah Pandemi

Sebenarnya kalau mau menilik jauh ke belakang, masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan kebiasaan nongkrong di kedai kopi. Di lorong-lorong pasar di berbagai sudut Indonesia, kedai kopi khas berjajar meramaikan aktivitas warga. Seiring waktu berjalan, coffee shop kian menjamur, khususnya di Jabodetabek. Tentu penggunaan istilah kedai kopi dan coffee shop pun berbeda, tergantung di mana lokasinya, apa yang disajikan, dan tentunya siapa yang menyambangi. Tidak hanya itu, jika dulu menikmati kopi lewat secangkir kopi hitam panas, kini cup plastik atau tumbler pribadi berisi es kopi susu menjadi pemandangan lazim di coffee shop. Kini variasi itu bertambah lagi, botol besar berisi kopi satu liter ikut meramaikan pilihan pecinta kopi sejak 2020 lalu.


Fenomena hadirnya kopi literan memang hadir di tengah serangan Covid-19 di Indonesia. Saat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pertama kali diterapkan April 2020 lalu. Ketika kegiatan dibatasi dan masyarakat dianjurkan untuk tetap di rumah saja, pengusaha coffee shop memutar otak dan menemukan inovasi untuk tetap menunjang penjualan dengan menghadirkan kopi literan.


Kalau sebelumnya kita dengan mudah mampir ke coffee shop, membeli kopi dalam cup atau memanfaatkan promo potongan harga dengan membawa tumbler sendiri, pandemi membuat kebiasaan itu harus tertahan.


Mobilitas yang kian minim tidak meredam keinginan menikmati es kopi susu favorit yang sudah menjadi bagian dari keseharian. Ditambah lagi, ada tren yang tercipta. Orang-orang di media sosial berbondong memamerkan kopi literan yang sudah dicoba dan menjadi kegemarannya.


Sebagai seseorang yang rutin mengonsumsi es kopi susu, tentu saya ikut ke dalam rombongan yang menjajal kopi literan. Masih datang dari salah satu brand kopi langganan, Toko Kopi Tuku, tentunya. Rasa-rasanya memang lebih hemat membeli kopi literan daripada jajan kopi cup nyaris setiap hari. Apalagi sejak akhir 2019, saya sedang menerapkan pola baru, buat es kopi susu di rumah setiap Senin – Jumat dan jajan kopi hanya untuk akhir pekan, tentunya kehadiran kopi literan jadi alternatif lain yang menarik minat.


Pertimbangan utama datang dari harga jual. Masih mengambil contoh dari harga Tukucur (1 Liter Kopi Tetangga Toko Kopi Tuku) yang dibanderol Rp85.000 bisa untuk konsumsi sekitar 3-4 hari dengan total 6-8 gelas berukuran 270 ml (berisi es batu). Sementara kalau rutin membeli es kopi susu tetangga dengan harga Rp18.000 x 4 hari = Rp72.000 dan tentunya hanya untuk 4 cup/4 kali minum saja.


Selain itu, konsumsi kopi juga bisa ditekan, walau sedikit. Karena 1 cup es kopi tetangga tentu lebih banyak daripada segelas es Tukucur di gelas rumah tadi. Yang menambah daya tarik lainnya, kopi literan bisa dibeli di marketplace. Sesuatu yang sulit diterapkan untuk kopi dalam cup. Apalagi di beberapa marketplace sering ada promosi tambahan. Hitung-hitungannya tentu masih lebih hemat membuat es kopi susu sendiri, tapi dengan kemudahan yang diberikan oleh kopi literan, rasanya sulit menahan diri untuk tidak tergoda ikut membeli.


Inovasi kopi literan di tengah pandemi ini memang menyenangkan buat saya dan sepertinya juga bagi banyak penikmat kopi lainnya di luar sana. Buktinya setelah setahun dijual, sampai hari ini kopi literan masih gampang ditemukan di banyak coffee shop lokal.


Mengutip data yang disajikan oleh Marketeers pada 18 September 2020 lalu, produk kopi literan masuk ke dalam jajaran produk makanan dan minuman yang paling banyak dibeli di e-commerce Tokopedia. Bahkan kopi literan dari Anomali Coffee dan Dua Coffee mengalami peningkatan pesanan harian hingga 3-5 kali lipat sejak pertama rilis.(1)


Lalu bagaimana kalau disuruh memilih kopi literan atau kopi dalam cup? Jawaban saya masih jatuh pada kopi literan. Dengan keadaan masih full WFH, kopi literan terasa seperti insentif bagi diri sendiri kalau hari-hari terasa kian penat. Tapi tentunya tergantung pada kebutuhan dan kondisi saat membeli. Karena semua kembali lagi pada kebutuhan masing-masing.


Apa pun pilihannya, akan lebih baik kalau dipesan dengan catatan less sugar, sembari membawa tumbler atau wadah minuman sendiri, tanpa perlu menggunakan sedotan dan plastik kantong tambahan. Kebiasaan konsumsi dan jajan kopi perlu diimbangi dengan kesadaran menjaga kesehatan diri dan lingkungan.


Saya sendiri sesekali masih sering lupa, namanya sedang berproses, tapi pesan saling mengingatkan demi kebaikan baiknya terekam dalam sebuah tulisan yang mungkin akan dibaca banyak orang. Agar setidaknya tulisan ini memberi sedikit manfaat.


Oh, manfaat lain yang akan saya tambahkan adalah rekomendasi es kopi susu yang rasanya pas di lidah saya. Mungkin ada yang setuju, ada yang tidak, pada akhirnya selera setiap orang tentu berbeda. Catatan tambahan, saya suka kopi yang cukup pekat, cenderung kental/creamy, dan tidak terlalu manis. Tentunya, saya berharap ada yang berbaik hati untuk membalas rekomendasi ini dengan rekomendasi versi kamu. Biar katalog jajanan kopi saya ikut bertambah setelahnya! - ND


(1) Estu Maranti, ‘Kopi Literan dan Camilan Jadi Produk Paling Laku di Tokopedia’, Marketeers.com, https://www.marketeers.com/kopi-literan-dan-camilan-jadi-produk-paling-laku-di-tokopedia/ [diakses pada 7 Juni 2021].

9 views0 comments

Recent Posts

See All