Luasnya Ruang Kreasi Dalam Perancangan Buku “You Do You” oleh Fellexandro Ruby

Mendekati akhir tahun 2020, saya ingat waktu itu adalah pertama kalinya diminta menyiapkan moodboard untuk proyek terbaru dari Pear Press. Kami diajak berkolaborasi untuk merancang sebuah buku yang akan ditulis oleh Fellexandro Ruby. Kebetulan di dalam project ini saya dipercaya oleh Pear Press untuk menduduki kursi art director dan juga desainer grafis. Di dalam brief terdapat beberapa draf tulisan sekaligus terlampir pula beberapa referensi visual dari penulis untuk memberikan sedikit arahan kepada kami perihal perancangan visual buku ini nantinya akan seperti apa.

Meskipun draf tulisan dan referensi visual sudah diberikan, tim visual Pear Press memiliki kewajiban untuk menyiapkan apa saja sekiranya yang dapat dipresentasikan kepada penulis di pertemuan pertama seluruh pihak yang terlibat. Biasanya elemen yang akan dibahas dan sebaiknya disiapkan tim visual termasuk ukuran buku, jenis kertas, perkiraan jumlah halaman, referensi visual, pemilihan huruf dan tipografi, sampai ke beberapa pilihan warna yang sekiranya cocok dengan gagasan hingga kepribadian penulis itu sendiri. Kami mencoba melebarkan perspektif guna memastikan bahwa kami berada di dalam sepatu yang sama dari kemungkinan-kemungkinan pendekatan visual yang efektif sekaligus berfungsi dengan baik.


Di awal meeting dengan tim Pear Press, kami diberi tahu bahwasanya buku yang akan dikerjakan kali ini bergenre self-improvement. Nah, menurut hemat saya, buku dengan genre seperti ini sudah pasti tidak ditulis oleh sembarang orang yang muncul out of nowhere kemudian memberikan wejangan tentang bagaimana menjalani hidup, ‘kan? Pasti ada jejak yang ditinggalkan sampai si penulis bersedia membagi garam hidupnya untuk diprasastikan ke dalam bentuk sebuah buku. Mencari jejak tentang siapa penulis buku ini, kami menelusuri tempat yang paling mudah untuk dijangkau saat ini yaitu media sosial. Bagi kami yang bertanggung jawab di bagian olah visual sudah pasti platform pertama yang kami kunjungi adalah Instagram. Kami ingin tahu bagaimana seorang Fellexandro Ruby menampilkan personanya di hadapan para followers, baik dari caranya mengurasi konten yang diunggah, penggunaan warna dominan yang ditampilkan, hingga cara berkomunikasi di setiap unggahan untuk kemudian kami rumuskan kira-kira pendekatan visual seperti apa yang dapat berfungsi dengan baik guna menemani tulisan-tulisan yang ada di dalam buku nanti.


Insight sudah kami dapatkan, beberapa data sudah dikumpulkan. Saatnya menyusun moodboard visual. Bagi kami, moodboard adalah titik awal yang menentukan arah visual buku ini nantinya akan disajikan seperti apa kepada para pembaca. Moodboard awal ini pula yang menjadi kail pancing yang kami tawarkan pada penulis untuk menjaring sebanyak mungkin clue serta mood seperti apa yang ingin penulis tampilkan dengan skala perspektif yang lebih luas dari sisi visual. Berbekal informasi yang sudah kami kumpulkan melalui beberapa platform digital yang digunakan oleh Ruby, kami mencoba untuk menyimpulkan bahwasanya penulis melakukan pendekatan visual di setiap kontennya dengan gaya minimalis alias menghindari gimik visual yang neko-neko. Bahkan tidak hanya dari visual saja, caranya meringkas dan menggunakan bahasa dalam setiap kontennya pun cenderung efektif, tidak bertele-tele, dan to the point.


Berkaca dari treatment visual yang digunakan oleh Ruby di platform digitalnya, kami terbayang kalau perancangan visual buku ini nantinya akan menggunakan pendekatan yang minimalis pula. Kami pun berinisiatif untuk melihat referensi dari perancangan visual buku-buku lain dengan genre yang sama. Untuk apa? Untuk meraba tren yang ada sekaligus menghindari keseragaman ketika nantinya buku ini sudah berada di pasaran. Oh iya, saya lupa sebutkan bahwa buku ini cenderung ditujukan untuk teman-teman berumur awal 20-an hingga akhir 30-an. Dari kumpulan data visual yang sudah kami kumpulkan mengenai buku dengan genre serupa di luar sana, dapat disimpulkan bahwasanya sudah banyak buku menggunakan pendekatan visual yang cenderung minimalis. Apabila kami juga memutuskan untuk menggunakan pendekatan visual yang sama, maka secara fungsi visual dan estetika nantinya akan menjadi biasa-biasa saja, hal yang sepertinya dihindari sekali oleh penulis kami.


Berangkat dari keresahan di atas, akhirnya kami pun mencoba untuk nekat dan memberikan moodboard yang sedikit keluar arah dari personanya. Kurang lebih seperti inilah moodboard pertama yang kami presentasikan kepada penulis.



Sedikit berbeda dengan referensi awal yang penulis berikan kepada kami, di sini kami ingin memaksimalkan fungsi tata letak serta rancangan visual di dalam buku, karena kami sadar setelah membaca beberapa draf tulisan bahwa kami merasa akan sangat disayangkan kalau tulisan Ruby ini dikemas dengan rancangan visual yang medioker. Surprisingly, sang penulis menyambut baik usulan moodboard yang kami sajikan di pertemuan awal ini. Ruby menyerahkan sekaligus mempercayakan segala urusan visual kepada kami tim visual Pear Press, walau ada sedikit suggestion di sana-sini namun secara garis besar penulis memberikan kebebasan kreatif kepada kami untuk mengarahkan visual dari buku ini yang mana adalah sebuah kemewahan bagi kami sekelompok perancang visual yang terkadang sering untuk diminta berkompromi.


Setelah moodboard dipilih dan disetujui oleh penulis, selanjutnya adalah proses yang menurut kami paling menyenangkan dari semua proses yang sudah kami lewati sebelumnya di proyek ini. Ya, proses tersebut adalah proses perancangan visual itu sendiri. Karena riset, analisis, dan moodboard sudah terkumpul, maka proses perancangan akan terasa lebih menyenangkan. Pekerjaan menjadi lebih efektif karena eksplorasi rancangan sudah memiliki acuan.


Berikut adalah beberapa alternatif rancangan pertama kami untuk buku ini.



Kami mulai melakukan exercise perancangan visual ini dengan beberapa pendekatan namun tetap berada pada parameter bahasa visual yang cenderung sama dan memang kadang sesekali melenceng untuk memancing rasa penasaran. Setelah draf rancangan visual ini dikirim, penulis tertarik dengan gaya ilustrasi dari alternatif 1 di atas yang diajukan sebagai gaya visual yang dapat mewakili sampul buku. Menariknya, penulis justru merasa ide alternatif 2 yang sedikit melenceng yang berpotensi untuk dikembangkan lagi dengan mengimplementasikan acuan gaya visual dari alternatif 1.



Kemudian pada draf selanjutnya kami mencoba untuk menggabungkan elemen visual dari alternatif 1 dengan cara berkomunikasi dari alternatif 2. Melalui draf selanjutnya inilah tercipta komunikasi visual yang cukup berbeda dengan rancangan isi buku. Secara isi kami juga berinisiatif untuk mengubah sedikit gaya ilustrasi yang ada, dan waktu itu kami ingat bahwa Ruby meminta kami untuk mengubah jenis font yang digunakan di dalam buku karena ukurannya dirasa terlalu besar. Pergantian font ini dilakukan untuk berkompromi dengan jumlah halaman yang ada, karena semakin banyak halaman yang dicetak, maka akan semakin mahal pula harga buku nantinya.

Singkat cerita dari semua proses menyenangkan di atas, akhirnya terpilihlah kunci rancangan visual untuk buku ini. Kunci ini benar-benar menjadi jalan lebar bagi kami yang berada di tim visual karena saat sudah disepakati bersama, maka proses pengerjaan tata letak setiap halaman akan terlihat lebih mudah dan lebih efektif. Berikut adalah sedikit rancangan visual yang sudah kami sepakati bersama dan berhasil naik cetak.



Kurang lebih demikianlah pengalaman kami dalam proses perancangan visual buku “You Do You”. Mungkin sekilas terdengar singkat dan mudah, namun memang, pada kesempatan ini kami sungguh beruntung diberi kepercayaan oleh Fellexandro Ruby untuk merancang setiap halaman dengan rasa yang sebebas-bebasnya. Dan makna “sebebas-bebasnya” bagi kami seorang perancang visual adalah dengan berusaha sepenuh hati agar buku ini nantinya dapat memenuhi fungsinya, bukan hanya secara komunikasi, tapi juga secara visual. Tidak hanya menyajikan cerita namun harus juga membawa makna. Semoga.


Oh ya, buku ini tersedia dalam bentuk cetak maupun digital. Versi cetaknya bisa dibeli melalui situs resmi Gramedia, sedangkan versi digitalnya bisa didapatkan melalui situs resmi Gramedia Digital. Semoga bermanfaat. -SK

143 views0 comments