Menebas Echo Chamber, Batas Tak Kasat Mata di Dunia Maya

Mari tulisan ini dibuka dengan penjelasan sederhana mengenai apa itu echo chamber. Gampangnya, kalau dilihat dari Cambridge Dictionary, echo chamber is a room or space in which sound echoes atau a situation in which people only hear opinions of one type, or opinions that are similar to their own.(1)


Lalu apa hubungannya dengan kehidupan kita yang serba digital hari ini? Karena seringnya echo chamber ini terjadi dalam ranah bermedia sosial yang kita lakukan sehari-hari.


Sumber: Ktxtfm.org oleh Thillist


Tulisan ini datang setelah gue membaca sebuah jurnal berjudul Quantifying echo chamber effects in information spreading over political communication networks ditulis oleh Wesley Cota, Silvio C. Ferreira, Romualdo Pastor-Satorras, dan Michele Starnini yang diterbitkan di edisi 8 EPJ Data Science pada 9 Desember 2019 lalu.


Pada argumen pembukanya disampaikan bahwa media sosial menyediakan tempat bagi kita untuk bertukar informasi secara instan, murah, dan tanpa perantara. Hal ini kemudian mengubah cara kita mengambil keputusan dan menentukan pihak kita dalam suatu isu.(2) Karena keleluasaan yang kita punya sebagai penentu setiap tindakan yang diambil dalam bermedia sosial ini ditambah dengan algoritma yang berlaku di dunia maya, kita punya kecenderungan untuk berinteraksi dengan orang-orang yang punya pandangan sama akan suatu hal dengan kita.


Akhirnya, tanpa kita sadar terjadi polarisasi yang terasa sangat kental di media sosial. Gampangnya? Ambil contoh ketika pemilu Presiden RI 2019 lalu, kubu Jokowi dan Prabowo tercetak nyata. Sejak akhir 2018 hingga April 2019 rasanya isi media sosial hanya perseteruan antar dua kubu. Mereka yang tidak sepaham dengan sosok Jokowi akan dibantu dengan algoritma Instagram dan Facebook untuk kemudian terus dijejali oleh informasi mengenai Prabowo dan keunggulannya, begitu pun sebaliknya.


Perlahan tapi pasti kita diajak menciptakan lingkaran tersendiri. Semakin sering kita terpapar suatu informasi, maka akan semakin sulit bagi kita membedakan mana fakta dan hoaks. Hari demi hari, logika semakin dibalut kenyataan yang tersaji di laman media sosial. Informasi yang kita terima menjadi suatu bukti sahih baru atas apa yang kita percayai sebagai fakta benar.


Di sanalah sebenarnya echo chamber sedang terjadi. Pantulan informasi dari sekitar, dari orang-orang yang kita follow menjadi sumber berita terbaru yang memasuki ruang pikiran. Ini tidak hanya terjadi pada kasus politik, tapi sampai tahap rekomendasi kopi enak yang sedang hits, skin care paling dicari, hingga keputusan untuk mendukung atau menolak vaksin Covid-19 yang kini sedang ramai diperbincangkan.


Sumber: Post Register Article oleh Robert Ariail


Tanpa sadar, influencer yang kita pantau kegiatannya setiap hari menjadi panutan ketika memutuskan membeli moisturizer A ketimbang C. Teman yang dulu sering nongkrong bareng saat kuliah kini berakhir dalam daftar akun yang harus di-mute karena terlalu lantang menyuarakan ketidakpercayaannya akan vaksin Covid-19 padahal kita berada dalam jajaran orang yang berharap vaksin bisa jadi jalan keluar dari hidup dengan masker dan ketakutan. Rencana membeli es kopi susu berakhir dengan scrolling puluhan menit karena bingung ingin ikut rekomendasi influencer D atau teman X, belum lagi si G mengabarkan GrabFood hari ini sedang promo 50%.


Perilaku, keputusan, tindakan yang kita ambil hari ini terpengaruh signifikan dari apa yang kita konsumsi di dunia maya, khususnya media sosial. Kita yang lebih memilih follow artis, influencer, dan teman-teman terdekat kehilangan sensitivitas atas apa yang terjadi pada kehidupan di luar sana. Lupa kalau Indonesia sedang resesi, puluhan ribu orang kehilangan pekerjaannya, ribuan usaha gulung tikar karena pandemi tak kunjung usai, hanya karena isi timeline penuh dengan lingkungan “baik-baik saja” yang kita pilih.


Di satu sisi, terlalu banyak follow akun berita dan influential people dengan segudang prestasi serta kekhawatiran akan dunia juga membuat kita lupa bahwa hidup tidak selamanya berjalan buruk dan penuh tekanan.


Sumber: Twitter.com/kats_cartoons


Seringnya kita terlalu nyaman dalam lingkaran media sosial yang sudah terbentuk. Kita lupa evaluasi sehingga sulit mengevakuasi diri ketika terjebak dalam lingkaran yang tak selalu sehat. Ujungnya, kita akan terjebak pada epistemic bubble. Menurut C. Thi Nguyen, Associate Professor of Philosophy, Utah Valley University, epistemic bubble terjadi ketika kita sebagai insider suatu bubble dalam media sosial tidak lagi terekspos dengan orang-orang dari sudut pandang yang berseberangan. Kita akhirnya hanya akan mendengar dan melihat informasi dari satu sisi, dibutakan, dan tidak lagi bisa melihat perbedaan.(3)


Lalu, harus apa? Enggak main media sosial?


Pertanyaannya satu, memangnya bisa?


Rasanya enggak perlu terlalu ekstrem. Semua kembali lagi pada kita, sepintar apa pun algoritma berupaya menciptakan online realm baru untuk kita, pada akhirnya semua bergantung pada jempol kita juga. Bijaklah membuat echo chamber-mu. Seleksi dengan baik siapa yang pantas mendapat perhatianmu di laman media sosial yang padat merayap. Rajin-rajin cek ulang akun yang masuk dalam daftar following-mu.


Kamu punya segala kemampuan untuk menjadi penentu di era yang memberikan kesempatan pada setiap orang untuk menjadi “raja” atas timeline-nya sendiri. Yang bisa kita lakukan sebagai “raja” adalah bertindak sebijaksana mungkin. Ada banyak cara mudah, misal:

  1. Perluas lini masa yang kamu scroll setiap hari.

  2. Temukan akun-akun baru yang punya “suara” dan “objektivitas”.

  3. Jangan percaya sepenuhnya pada apa yang disampaikan orang lain. Googling, googling, googling¸ baca, bandingkan, ambil kesimpulan.

  4. Tidak perlu ikut bersuara lantang jika memang bukan tempatmu. Media sosial sudah terlalu bising, di antara jari yang sibuk berlomba menekan tombol enter paling dulu, harus lebih banyak mata dan otak yang mencari jawaban benar sehingga hati tak kepalang menentukan pihak.

  5. Sadarilah, media sosial adalah salah satu tempat bersosialisasi, tidak perlu menjadi satu-satunya tempat nongkrong karena semakin banyak kamu bergaul, semakin luas perspektifmu.


Sumber: Deep Dives India oleh Rosangela Ludovico, Hug the Robots (2013)


Bermedia sosial nampak mudah dan menyenangkan tapi kalau tidak disikapi dengan benar bisa menjadi bumerang untuk diri sendiri. There ain't no such thing as a free lunch, right? Hati-hati sama echo chamber sendiri. Jangan sampai kita luruh dalam persamaan dan menutup mata akan perbedaan. Karena seharusnya era digital ini membuka pintu kita pada banyak hal selebar mungkin, jangan sampai kita menutup pintu tersebut dan terkurung dalam kotak kecil yang mengungkung. - ND



(1) Cambridge Dictionary, <https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/echo-chamber>[accessed on January 11, 2021]

(2) Cota, W., Ferreira, S.C., Pastor-Satorras, R. et al., "Quantifying echo chamber effects in information spreading over political communication networks", EPJ Data Sci. 8, 35 (2019),<https://doi.org/10.1140/epjds/s13688-019-0213-9> [accessed on January 11, 2021]

(3) Nguyen, Thi C., "The Problem of Living Inside Echo Chambers", The Conversation, <https://theconversation.com/the-problem-of-living-inside-echo-chambers-110486> [Accessed on January 11, 2021]

30 views0 comments

Recent Posts

See All