Yang Tak Pernah Dipamerkan
- Simpul Writers
- Jun 5
- 1 min read

Sedang di ruang tunggu,
ruang penantian.
Lahir semalam.
Tangannya lembut,
matanya bersinar
hatinya hangat,
saat merangkai keberadaanku.
Selalu berdebar kuat
ketika ia melihatku dalam.
Lalu seketika redup sinar matanya.
Memelukku erat,
lalu menyembunyikanku lagi.

Tidak, tidak sendiri.
Bersama yang lain,
yang pula ia cintai,
dan pantas dunia lihat.
Bersama yang lain,
dengar pula bisikan-bisikan malamnya,
“belum...”
“siapa gerangan kau? sudah merasa pantas?”
Yang lain tidak marah,
aku pun tak marah,
sebab tahu ia mencintaiku.
Hanya saja ia belum mencintai dirinya sendiri.

Sedang di ruang tunggu,
ruang penantian.
Menunggu bilamana ia sadar,
aku tidak perlu sempurna untuk bermakna.
Hanya perlu dibiarkan hidup.
Dari aku,
Karya Terpendam-nya,
Yang Tak Pernah Dipamerkan
-BP



Comments